Showing posts with label GENRE. Show all posts
Showing posts with label GENRE. Show all posts

Sunday, February 12, 2017

Substansi Program GenRe : 8 Fungsi keluarga

Menurut UU RI NO. 52 tahun 2009 ( tentang pengembangan kependudukan dan pembangunan keluarga ) keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari Suami - Isteri, atau Suami, Isteri, dan anaknya, atau ayah dan anaknya atau ibu dan anaknya.

Pengertian lain juga menyebutkan bahwa Keluarga merupakan :
Unit terkecil masyarakat atau suatu kelompok
 Terdiri dari 2 orang atau lebih
 Adanya ikatan perkawinan yang sah dan pertalian darah
 Hidup dalam satu rumah tangga
 Di bawah asuhan kepala rumah tangga
 Berinteraksi satu sama lain
 Setiap anggota keluarga menjalankan perannya masing - masing
 Menciptakan dan mempertahankan suatu kebudayaan

8 Fungsi Keluarga
Setelah memahami mengenai pengertian dari keluarga, kita juga mengenal Fungi yang ada didalam keluarga. Didalam keluarga terdapat 8 Fungsi keluarga yaitu :
Fungsi Perlindungan
Fungsi Reproduksi
Fungsi Ekonomi
Fungsi Cinta dan Kasih Sayang
Fungsi Lingkungan
Fungsi Agama
Fungsi Sosisalisasi dan Pendidikan
Fungsi Sosial Budaya

1.     Fungsi Perlindungan

Keluarga menjadi pelindung yang pertama, utama dan kokoh dalam memberikan kebenaran dan keteladanan kepada anak – anak dan keturunannya.

Saat anak kita berbuat salah, sebenarnya anak tahu kesalahannya keluarga adalah tempat pertama yang tidak perlu menyalahkan tetapi menjadi motivasi supaya anak menjadi berani untuk bangkit kembali.

Nilai Moral yang ditanamkan dalam Fungsi ini adalah : Ketabahan, Tanggap dan Pemaaf.

2.     Fungsi Reproduksi

Keluarga menjadi Pengatur Reproduksi keturunan secara sehat dan berencana, sehingga anak – anak yang dilahirkan menjadi generasi penerus yang berkualitas.

Melahirkan sebuah generasi baru kadang ada harga yang harus dibayar. Generasi baru harus dilahirkan dengan pengajaran, gerakan untuk melawan arus berjuang sekuat tenaga tanpa akhir.

Nilai Moral yang ditanamkan dalam Fungsi ini adalah : Bertanggung Jawab, Kesehatan dan Keteguhan.

3.     Fungsi Ekonomi

Didalam Fungsi ini, Keluarga menyiapkan dirinya untuk menjadi suatu unit yang mandiri dan sanggup untuk meningkatkan kesejahtreraan lahir dan batinnya dengan penuh kemnadirian.

Nilai Moral yang ditanamkan dalam Fungsi ini adalah : Hemat, Teliti, Disiplin, Peduli dan Keuletan.

4.     Fungsi Cinta dan Kasih Sayang

Keluarga menjadi wahana pertama dan utama untuk menumbuhkan cinta kasih antar sessama anggotanya, antar orang tua dengan pasangannya, antar anak dengan orang tua dan sesame anak sendiri.

Mari kita belajar dari matahari yang menyinari semua anak diduania tanpa pilih kasih tanpa menilai apakah dia pintar, nakal, atau cacat. Semuanya mendapat terang cahaya, dan kehangatan yang sama setiap harinya.

Nilai Moral yang ditanamkan dalam Fungsi ini adalah : Empati, Keakraban, Keadilan, Pemaaf, Pengorbanan, Suka Menolong, Bertanggung Jawab, Kesetiaan.

5.     Fungsi Lingkungan

Keluarga siap dan sanggup untuk memelihara kelestarian lingkungan untuk memberikan yang terbaik kapada anak cucunya dimasa yang akan datang.

Semua perilaku kita sekarang sebenarnya adalah pohon yang kita tanam, yang buahnya akan dinikmati anak cucu kitya dimasa depan.

Nilai Moral yang ditanamkan dalam Fungsi ini adalah : Kebersihan dan Disiplin

6.     Fungsi Agama

Keluarga dikembangkan untuk mampu menjadi wahana yang pertama dan utama untuk membawa seluruh anggotanya melaksanakan Ibadah dengan penuh keimanan dan ketaqwaan kepada Tuhan YME

Nilai Moral yang ditanamkan dalam Fungsi ini adalah : Keimanan, Ketaqwaan, Kejujuran, Beryukur, Kepedulian, Tenggang Rasa, Rajin, Kesalehan, Ketaatan, Suka menolong, Disiplin, Sopan Santun, dan Kesabaran.

7.     Fungsi Sosialisasi dan Pendidikan

Keluarga berfungsi sebagai sekolah dan guru yang pertama dan utama dalam mengantarkan anak – anaknya untuk menjadi panutan masyarakat luas dan dirinya sendiri.

Nilai Moral yang ditanamkan dalam Fungsi ini adalah : Percaya Diri, Keluwesan, Kebanggaan, Kerajinan, Kreatif, Bertanggung Jawab dan Kerja sama

8.     Fungsi Sosial Budaya

Keluarga dikembangkan menjadi wahana untuk melestarikan budaya nasional dan luhur dan bermartabat ditengah peradaban dunia.

Mari kita mulai budaya baik keluarga kita terlebih dahulu. Bila semakin banyak keluarga Indonesia yang memiliki budaya luhur, niscaya akan terbiasa dan menyebar sebagai budaya bangsa.

Nilai Moral yang ditanamkan dalam Fungsi ini adalah : Gotong Royong, Sopan Santun, Kerukunan, Kepedulian, Kebersamaan, Toleransi, dan Kebangsaan.



8 Fungsi Keluarga merupakan slaah satu cara yang dapat dilakukan orang tua dalam membantu pembentukan karakter anak sehingga memiliki keprbadian yang matang. Mari mulai terapkan 8 Fungsi keluarga untuk membangun keluarga yang harmonis, bahagia dan sejahtera.

Saturday, February 11, 2017

Substansi program GenRe : Pemenuhan Gizi bagi Remaja

Salah satu subsansi dari Program GenRe yang harus diperhatikan oleh remaja utamanya untuk remaja yang sedang mengalami masa pertumbuhan adalah mengetahui sumber Gizi yang baik bagi tertumbuhan mereka. Mengutip pernyataan Dr. Indah Nurwulan Staf Bina Ketahanan Remaja BKKBN Pusat pada TOT Pendidik dan Konselor sebaya di bandung 22 – 23 Agustus 2015, Gizi adalah elemen yang terdapat dalam makanan dan dapat dimanfaatkan secara langsung oleh tubuh seperti halnya Karbohidrat, protein, Mineral, Lemak, Vitami dan Air. Serta gizi yang seimbang dibutuhkan oleh tubuh untuk memenuhi sumber gizi manusia.

1.       Sumber Energi ( sumber tenaga ) : Karbohidrat
Fungsi dari karbohidrat bagi tubuh adalah :
1.       Menghasilkan energi
2.       Cadangan tenaga bagi tubuh
3.       Memberikan rasa kenyang
Contoh : Beras, Jagung, Umbi – umbian dll

2.       Sumber Protein ( Zat Pembangun )
Sumber Protein sangat diperlukan untuk pertumbuhan, perkembangan badan, pembentukan jaringan baru dan pemeliharaan tubuh. Sumber protein terdiri atas protein hewani seperti Daging Sapi, Daging ayam, Telur, Daging ikan ddl, serta sumber protein nabati seperti kacang – kacangan, biji – bijian, tahu, tempe dll

3.       Lemak
Contoh sumber makanan yang mengandung lemak adalah minyak goreng, mentega, susu, daging, dan ikan. Makanan berlemak seperti Gajih, Kulit, dan susu berlemak disarankan untuk tidak dikonsumsi secara berlebihan karena dapat menggangu kesehatan.

4.       Zat Pengatur ( Vitamin )

Jenis sumber makanan yang mengandung vitamin adalah sayur dan buah – buahan. Vitamin yang dibutuhkan oleh tubuh manusia yaitu Vitamin B6, Asam Folat, A, C, D, dan E.

Substansi Program GenRe : Pendewasaan Usia Perkawinan

Pendewasaan Usia Perkawinan adalah upaya meningkatkan usia pada kawin pertama sehingga mencapai Usia ideal pada saat perkawinan. PUP bukan sekedar menunda sampai usia tertentu saja tetapi mengusahakan agar kehamilah pertama pun terjadi pada usia yang cukup dewasa. Usia Menikah yang Ideal bagi Wanita adalah 21 tahun dan bagi Pria adalah 25 tahun.

Tujuan dari Pendewasaan Usia Perkawinan adalah memberikan pengertian dan kesadaran kepada remaja agar dalam merencanakan keluarga mempertimbangkan berbagai aspek yangb berkaitan dengan keluarga yaitu :

·         Aspek Kesehatan
Dari sudut pandang kedokteran Pernikahan dini memiliki banyak dampak buruk bagi Ibu yang akan melahirkan dan anak yang akan dilahirkan, seperti Resiko Bayi Lahir Prematur, Berat Bayi Lahir Rendah, dan Resiko Kematian bagi Wanita dan janin yang akan dilahirkan. Anak Perempuan Usia 10 – 14 Tahun memiliki kemungkinan meninggal 5 kali lebih besar selama kehamilan atau melahirkan dibandingkan perempuang yang berusia 20 – 25 Tahun, Sedangkan yang berusia 15 – 19 Tahun memiliki kemungkinan 2 kali lebih besar ( Sumber : Plan Internasional )

Apabila ditinjau dari Aspek kesehatan Reproduksi, Kehamilan di usia dini juga menjadi salah satu penyebab dari Kanker Serviks ( Kanker Leher Rahim ) dan Trauma Fisik berupa kesakitan pada organ intim wanita

·         Aspek Psikologi
Kesiapan Psikologis di Artikan sebagai kesiapan Individu dalam menjalankan peran sebagai suami atau istri, meliputi pengetahuan akan tugasnya masing – masing dalam Rumah Tangga.

Adanya kematangan secara Psikologis diharapkan agar kedepannya seorang semaja dapat menghindari berbagai faktor negative yang menghampiri ketika hidup berkeluarga seperti Ketidaksiapan menilai sikap dan Perilaku Pasangan, Menciptakan karakter orang tua yang terkesan tidak siap mengasuh anak – anak mereka, serta tidak siap menghadapi dinamika kehidupan Berumah tangga.
·         Aspek Pendidikan
Dalam Bidang Pendidikan, Perkawinan dini mengakibatkan anaktidak mampu mencapai pendidikan yang lebih tinggi. Hanya terdapat 5,6 % anak yang menikah dini melanjutkan sekolah setelah menikah.

·         Aspek Ekonomi
Masalah Perekonomian menjadi salah satu sumber dari Disorganisasi dalam keluarga. Umumnya masaah keluarga muncul dari hal – hal yang kecil sampai pada perceraian yang disebabkan oleh masalah Ekonomi Keluarga. Selain itu, Pendidikan yang Minim Mengakibatkan sulitnya bagi mereka untuk mendapatkan penghasilan yang lebih layak, sehingga menjadikan keluarga sebagai beban Perekonomian yang cukup berat yang pada akhirnya memmicu perceraian karena tidak terpenuhinya kebutuhan primer di dalam keluarga.

·         Aspek Sosial

Pernikahan Dini dapat mengurangi Harmonisasi Keluarga. Disebabkan oleh emosi yang masih labil, gejolak darah muda dan cara berpikir yang belum matang.

44 % dari anak perempuan yang menikah dini mengalami kekerasan dalam berumah tangga ( KDRT ) dengan tingkat Frekuensi tinggi, Sisanya 56 % anak perempuan mengalami KDRT dalam Frekuensi yang rendah ( Data dari Plan International 2011 ).

·         Jumlah dan Jarak Kelahiran

Makna dari mengatur jumlah dan jarak kelahiran adalah dengan memahami lama nya masa subur bagi perempuan dan bagaimana mempersiapkan sistem Reproduksi mereka, Melahirkan pada usia yang sudah dianjurkan, serta membatasi jumlah anak yang akan dilahirkan.


Jika Remaja / Mahasiswa merencanakan masa depannya melalui Pendewasaan Usia Perkawinan maka :

1.       Angka Total Fertiliy Rate menurun
2.       Kesempatan untuk perempuan bekerja dan berkarir meningkat
3.       Dan Windows of Opportunity akan tercapai

Karena apabila Program Genreasi berencana dapat tercapai, hasil yang diharapkan adalah Remaja dapat merencanakan hidup berkeluarga dengan matang, aktif dalam kehidupan bermasyarakat, pola hidup sehat sehari – hari, dapat mencapai pendidikan yang setinggi mungkin, serta menjadi pekerja yang kompetitif. Sehingga sebagai penutup dari artikel saya, pesan yang ingin saya sampaikan kepada Remaja Indonesia adalah Rencanakan Hidupmu untuk wujudkan masa depanmu kelak. Salam GenRe


Friday, February 10, 2017

Pengantar Pendewasaan usia Perkawinan

Sebelum membahas aritikel mengenai Pendewasaan Usia Perkawinan, sya ingin memberitahukan beberapa fakta. Taukah kamu ?

  • Bahwa Jumlah Penduduk Remaja di Indonesia berjumlah kurang lebih 64 Juta, atau 1 dari 4 orang penduduk Indonesia adalah Remaja.
  • 10-20 Tahun kedepan kita semua adalah bonus untuk Demografi di Indonesia.
  • Ditangan remaja tersimpan tanggung jawab besar untuk dirinya, Keluarga dan Negara.
Bagaimana kita menyikapi fenomena ini ? Remaja yang sebenarnya bisa menjadi Inspirasi untuk orang – orang disekitarnya harus terjebak dengan berbagai macam perangkap yang merusak mental mereka, sebut saja Seks Pranikah, Pernikahan Dini, Kehamilan Remaja, HIS/AIDS dan NAPZA. Kita tidak bisa menutup mata mengahapi kondisi yang remaja hadapi sekarang, sedangkan Bonus Demografi yang akan dampak menghampiri bangsa ini terlihat seperti pedang bermata dua, bisa memberikan manfaat untuk bangsa kita dan bisa saja menjadi bencana yang harus kita tangani bersama.

Pada Artikel ini saya ingin sekali membahas mengenai seberapa pentingkah Pendewasaan Usia Perkawinan bagi remaja untuk menghadapi masa depan ditengah permasalahan yang menghadapi sebayanya di Zaman Milenial seperti sekarang. Indonesia sendiri menduduki peringkat ke 37 sebagai Negara dengan Persentase nikah muda tertinggi dan Peringkat kedua tertinggi di Asia Tenggara setelah Cambodia.

Faktor utama yang menyebabkan tingginya angka pernikahan di Usia Muda adalah Pendidikan yang Rendah, Kebutuhan Ekonomi, Kultur Menikah Muda, Pernikahan yang diatur, Seks Bebas pada remaja dan kehamilan diluar nikah.

Erica Field dari Harvard University pada bulan September 2004 di Consequences of Early Marriage for Women in Bangladesh menyatakan bahwa :

 “Early marriage is associated with a number of poor social and physical outcomes for young women and their offspring. They attain lower schooling, lower social status in their husbands’ families, have less reproductive control, and suffer higher rates of maternal mortality and domestic violence. They are often forced out of school without an education, their health is affected because their bodies are too immature to give birth.”  

    Yang bermakna bahwa penikahan dini berakibat sangat serius bagi remaja dan lingkungan disekitarnya. Pernikahan dinidikaitkan dengan sejumlah hasil sosial dan fisik yang buruk bagi perempuan muda dan anak-anak mereka. Mereka mencapai sekolah rendah, status sosial yang lebih rendah dalam keluarga suami mereka, kurang memiliki kontrol reproduksi, dan menderita tingkat yang lebih tinggi dari kematian ibu dan kekerasan dalam rumah tangga. Mereka sering dipaksa keluar dari sekolah tanpa pendidikan, kesehatan mereka terpengaruh karena tubuh mereka terlalu muda untuk melahirkan. Oleh karena itu Sangat Penting bagi Remaja melakukan perencanaan kedepannya untuk membina keluarga sehingga bisa menanggulagi dampak yang disebabkan oleh pernikahan dini tersebut.

Memahami Program Generasi Berencana ( GenRe) dari BKKBN

Seperti yang kita ketahui bahwa Indonesia adalah Negara dengan jumlah penduduk terbesar ke-4 didunia setelah China, India dan Amerika serikat. Dan jumlah angka kepadatan penduduk dinegara ini terus meningkat setiap tahunnya. Hal ini disebabkan beberapa faktor seperti Meningkatnya Angka kelahiran dan Migrasi atau perpindahan penduduk. Pemerintah Indonesia melalui Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional menyusun beberapa kebijakan mengenai penekanan jumlah penduduk. Beberapa diantaranya adalah program KB (Keluarga Berencana) dan Program Perencanaan Hidup Berkeluarga bagi remaja yang disebut dengan program GenRe.

Apakah yang disebut dengan GenRe ? GenRe atau Genereasi Berencana adalah remaja yang memiliki pengetahuan bersikap dan berperilaku sebagai remaja namun penuh dengan perencanaan matang dalam menapaki masa depan. Program GenRe adalah program yang dikembangkan dalam rangka penyiapan kehidupan berkeluarga bagi remaja sehingga mereka mampu melangsungkan jenjang pendidikan secara terencana serta menikah sesuai dengan siklus kesehatan reproduksi, diharapkan mampu mengatasi persoalan kuantitas dan kualitas penduduk ( khususnya remaja ) sekaligus. Pendapat lain menyebutkan bahwa program GenRe adalah program pengembangan Keterampilan bagi remaja dalam mewujudkan tegar remaja yaitu remaja yang berperilaku sehat, terhindar dari Triad KRR (NAPZA, Nikah Dini dan Seks bebas) serta merencanakan hidup berkeluarga untuk mewujudkan keluarga kecil bahagia sejahtera.

Program GenRe memiliki beberapa Substansi yaitu PUP ( Pendewasaan Usia perkawinan ), TRIAD KRR, 8 Fungsi Keluarga, Lifeskill ( Keterampilan Hidup ), Ketahanan Keluarga berwawasan Gender, Komunikasi Efektif, Peran orang tua terhadap remaja, kebersihan dan kesehatan diri remaja serta Pemenuhan Gizi bagi Remaja.

Sasaran dari program GenRe ditujukan kepada remaja usia 10 sampai 24 tahun, belum menikah, mahasiswa / pelajar, Keluarga yang mempunyai remaja serta masyarakat yang peduli terhadap remaja.Konklusi yang dapat kita tarik disini adalah program ini dibuat untuk remaja yang masih masuk kedalam tahap perencanaan berkeluarga, terkhusus bagi yang belum menikah. Lalu timbul pertanyaan baru ? bagaimana kalau remaja yang sudah menikah ? apakah mereka masih dapat merencanakan hidup berkeluarga dengan baik ? Jawabannya adalah, remaja yang sudah masuk kedalam proses berumah tangga atau dalam hal ini dikatakan sudah menikah tidak bisa kita masukkan kedalam sasaran program ini karena salah satu substansi yang menjadi focus utama program ini adalah PUP atau pendewasaan usia perkawinan. Dimana remaja tersebut harus merencanakan usia perkawinannya sampai memasuki usia 21 tahun bagi wanita dan 25 tahun bagi pria. Perihal masalah remaja yang sudah terlanjur menikah dibawah usia tersebut, hal yang harus dilakukan oleh remaja adalah dengan melakukan konseling melalui PIK ( Pusat Informasi dan Konseling ) yang tersebar di Sekolah, Kampus dan Jalur kemasyarakatan seperti Organisasi dan Komunitas.

Fokus utama dari program GenRe adalah Penundaaan Usia Perkawinan, Penyediaan Informasi kesehatan seluas – luasnya melalui PIK R/M, dan mempromosikan perencanaan hidup berkeluarga dengan sebaik – baiknya ( Kapan menikah, Kapan mempunyi anak, berapa jumlah anak dsb. ).

Program GenRe menurut saya adalah program yang paling kompleks sebagai pedoman utama remaja dalam melaksanakan merencanakan hidup berkeluarga karena didalam substansinya sudah diatur bahwa sebelum berkeluarga remaja juga harus dituntut siap secara Fisik, Mental, Spiritual, Emosional serta yang paling utama adalah kemampuan Vokasional untuk membentuk keluarga yang bahagia dan sejahtera.


Pada Postingan selanjutnya saya akan membahas mengenai Substansi GenRe secara lebih terperinci dengan. Terimakasih sudah membaca Blog saya dan mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam pengucapan. Sampai bertemu di Postingan selanjutnya.